Strategi Bisnis TEK-Talk

5G, Kapan hadir di Indonesia?

August 8, 2019

Belakangan ini kata “5G” sedang populer dan banyak di bahas di beberapa portal berita technology. Beberapa negara maju dibidang ICT seperti Amerika, Jepang, Korsel, Inggris, China sudah mulai menerapkan technology ini bahkan negara tetangga kita Philippines melalui salah satu operator terbesar mereka Globe telah menyatakan siap menggelar layanan pada pertengahan tahun ini. Bagaimana kondisi dan peluang kita di Indonesia? Akankah kita akan dapat merasakan technology ini dalam waktu segera? Berbicara terkait adopsi technology baru tentu tidak lepas dari tiga hal utama yaitu Regulasi, Bisnis, dan Technology itu sendiri. Lalu bagaimana kondisi tiga hal ini di negara kita saat ini? Berikut sedikit yang yang saya tahu terkait hal ini.

Technology, kenapa saya bahas ini pertama karena ini nampaknya hal ini-lah yang sudah cukup banyak bisa dibahas. Hal ini tak lepas dari standard yang telah disepakati dan release dalam 3GPP R-15 pada akhir 2017 lalu. Secara umum pada standard yang telah direlease ini service 5G dibagi menjadi 3 yaitu: Evolved Mobile Broadband (eMBB), Ultra-Reliable and Low-Latency Communications (URLLC), Massive machine-type communications (mMTC).

Standarisasi service dan requirement ini yang kini dijadikan pegangan para technology owner untuk mengembangkan ekosistem 5G mulai dari perangkat telekomunikasi sampai handset. Hampir semua technology owner perangkat telekomunikasi telah menyatakan siap untuk menggelar technology mereka guna mendeliver layanan 5G. Pada gelaran mini MWC di Barcelona beberapa waktu lalu juga dimanfaatkan para technology owner handset untuk meluncurkan Flagship phone mereka diantaranya Samsung S10, OPPO R15, LG v50 ThinQ, Huawei Mate 20Pro, dan Xiaomi dengan Mi Mix3 nya. Secara umum ekosistem technology 5G di Dunia saat ini sudah dapat dikatakan siap untuk dideliver. Kembali ke Indonesia saat ini para penyedia perangkat telekomunikasi kini tengah menjajaki upaya untuk bekerjasama dengan operator untuk dapat segera mengegelar layanan 5G di Indonesia. Hal ini juga yang dilakukan para penyedia handset untuk mendorong segera diimplementasikannya 5G di Indonesia. Namun pada kenyataanya sampai saat ini kita masih belum mendengar adanya informasi secara pasti kapan akan lahirnya 5G di Indonesia. Tentu ini sangat erat kaitanya dengan hal kedua yang akan dibahas yaitu Regulasi.

Regulasi, membahas hal ini di negara kita adalah salah satu hal cukup rumit. Namun salah satu hal yang menarik dan dapat saya bahas di sini adalah terkait pengguanaan Spectrum frekuensi-nya. Sampai saat ini penggunaan frekuensi 5G belum di atur oleh regulator. Yang menjadi masalah utama saat ini adalah ecosystem technology 5G tumbuh di range mid band 3500MHz (dengan lebar pita 100MHz). Di Indonesia sendiri saat ini frekuensi ini digunakan untuk komunikasi Satellite extended C-BAND. Opsi lain spectrum yang sedang tumbuh ecosystem nya adalah di 2600MHz namun sama hal-nya dengan 3500MHz saat ini frekuensi tersebut sudah digunakan untuk TV Satellite. Dari opsi-opsi ini nampaknya pengaturan frekuensi masih cukup pelik. Berdasarkan benchmark implementasi memang ada beberapa skenario untuk penggunaan bersama frekuensi seperti co-existence ataupun geospasial separation namun nampaknya regulator kita masih berhati-hati dalam mengambil keputusan yang bijak untuk solusi ini. Atau bahkan ada opsi yang lebih “radikal” untuk memaksa ekosistem tumbuh di frekuensi yang sudah dialokasikan untuk mobile communication di Indonesia. Hal ini tak lepas dari aspek ketiga yang akan dibahas di artikel ini yaitu Bisnis. Hal ini tak lepas dari aspek ketiga yang akan dibahas di artikel ini yaitu Bisnis.

Bisnis, aspek ini merupakan yang menarik untuk dibahas. Bagaimana tidak , adanya technology baru sudah otomatis akan berdampak terhadap aspek ekonomi baik yang secara langsung berhubungan maupun tidak. Bahkan dalam beberapa case di dunia ICT justru dampak tidak langsung ini memiliki kontribusi lebih besar dalam industri dan ekonomi seperti pada adopsi 4G maupun 3G sebelumnya yang memapu berdampak pada ekosistem digital seperti e-commerce, fintech, e-travel, dll. Secara umum aspek ini sejatinya merupakan dampak dari implementasi technology itu sendiri namun masih perlu dikonsider kaitanya dengan bisnis-bisnis lain yang mungkin terdampak dari implementasi 5G di Indonesia.

Dari tigas apek itu nampaknya yang cukup berat dan masih menjadi kendala di Indonesia adalah Aspek Bisnis dan Regulasi. Hal ini tak lepas dari eratnya kaitan antar keduanya. Salah satu hal utama yang masih menjadi pertanyaan besar adalah strategy regulator kita untuk bisa mengatur dan memfasilitasi kebutuhan spectrum untuk 5G ini dengan mempertimbangkan bisnis Satellite dan TV berbayar yang sudah ada dan tumbuh sebelumnya di frekuensi 3500MHz dan 2600MHz. Selain itu juga soal aturan TKDN yang pastinya akan menjadi konsideran utama para pemilik technology handset untuk dapat memasarkan product meraka di Indonesia. Masih pelik dan belum adanya informasi yang jelas ini setidaknya masih belum bisa menjawab pertanyaan kita yaitu “Kapan 5G akan hadir di Indonesia?” Kita doakan saja semoga senyapnya informasi di publik ini karena para regulator kita tengah mempersiapan strategy dan skenario untuk proses adopsi 5G di Indonesia. Saya sendiri Optimis setidaknya tahun depan sudah ada operator di Indonesia yang memulai trial untuk implementasi, dan 2021 kita sudah bisa menikmati layanan internet super cepat dengan latency sangat rendah untuk menunjang aplikasi seperti virtual reality telecomunication, holograpic communication dll. Ya Semoga 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.