Curahan Pikiran

Di mana aku kini karena “Kebingungan dan Ketidaksengajaan”

Sekitar dua setengah tahun yang lalu aku memulai menapak langkah di industri yang aku jalani saat ini. Industri Teekomunikasi, sesuatu yang bahkan tak terbayang atau tak pernah terucap saat ditanya apa cita-citaku waktu kecil dulu. Ya kini aku ada di industri ini dan masih terus belajar untuk mengerti hal-hal yang sejujurnya tak pernah aku pelajari baik di bangku sekolah maupun kuliah. Dua setengah tahun berlalu dan baru sebagian kecil saja yang aku mengeti, ya baru dimengeri belum dipahami. Semoga lain kali aku bisa berbagi cerita tentang sesikit yang aku mengerti itu di blog ini karena kali ini aku akan bercerita tentang bagaimana aku bisa sampai di sini.

Jika diruntut kebelakang langkah ini bermula dari “kebingungan dan ketidaksengajaan”. Sekitar enam tahun lalu aku mengambil keputusan yang sangat emosional dengan resign dari perusahaan manufacture yang sebenarnya cukup bonafit. Keputusan yang didominasi oleh ego masa muda yang sok tau dan tidak memperhatikan resiko ini kini menjadi pelajaran berharga dalam hidup. Setelah resign dan memutuskan kembali ke Jogja aku memulai petuangan “kebingungan” dan tidak tau harus berbuat apa dan bagaimana. Kebingungan itu akhirnya membawaku pada formulir pendaftaran S2 di Gadjah Mada. Ini juga keutusan emosional, namun pada akhirnya aku syukuri keberanianku saat itu. (continue reading…)


Bersama “Kapal Besar”

Sumber gambar: www.pd4pic.com

Setelah seperempat abad lebih menjalani hidup dan merajut mimpi akhirnya saya kesampaian juga untuk bisa ikut berlayar dan mnejadi bagian dari awak sebuah “kapal besar” di negeri ini. Awal saya dinyatakan bisa menjadi bagian dari “kapal” ini amat sangat excited. Bagaimana tidak karena ini merupakan salah satu mimpi saya dan saya harus mengorbankan waktu, usia dan tentunya cinta demi bisa kembali mendapatkan selembar ijazah. Salah satu syarat wajib yang bisa mengantar saya ke pintu dermaga di mana “kapal” ini akan berlabuh.

Semua berjalan dengan sempurna dari proses menuju dermaga, berproses sebulan di dermaga untuk mengetahui tentang kapal ini lebih dekat. Sampai akhirnya sekarang diberikan ijin untuk ikut berlayar walau masih sebagai ABK anak bawang yang kerjaannya “cuci piring” dan “bersihin kabin”.
(continue reading…)


“iseh” Galau Pilpres

Sudah cukup lama tidak menengok halaman ini akhirnya karena satu notifikasi jadi dibuka kembali, saya hampir lupa sebelumnya pernah punya laman ini. Maklum lagi sok sibuk dengan kegalaun hati,. haha.. *galau kok terus.

Karena sudah ngebuka laman ini jadi saya pengen iseng-iseng mengungkapkan salah satu kegalau saya ini, hehe

Berhubung media sudah cukup redup tapi saya masih galau, saya akan menuliskan sedikit kegaluan saya soal pilpres 2014 🙂

Pilpres kali ini adalah pilpres kedua saya setelah yang pertama kali saya berikan hak pilih oleh negara 5 Tahun lalu pada tahun 2009, dan pilihan saya pada pilpres pertama saya itu menang jadi presiden dan akan segera lengser bulan Oktober depan. Dulu awalnya saya senang sekali ketika pilihan saya menang, sudah berasa kayak nonton AS Roma juara pada 2001 silam. Tapi pada akhirnya saya mencaci maki sendiri pilihan saya yang memang itu beberapa tahun kemudian karena beberapa kebijakannya. Yah namanya juga rakyat cuma bisa protes-protes aja kan. haha

Dan pada edisi kali ini pilihan saya hampir menang juga, walau sekarang masih menjalani gugatan oleh lawan di sidang MK, tapi tenang saya galau bukan soal gugatan itu kok. Saya pikir semua proses pilpres yang harusnya saya jalani yaitu menentukan dan memilih yang terbaik dari pilihan yang ada sudah saya jalankan. Sekarang tinggal tunggu saja keputusan para pemilik kuasa akan negri ini :)  (continue reading…)


Aku dan “Dinding” kamarku

sumber gambar: cliker.com

Jarum pendek di jam tanganku masih tepat menunjuk angka 4, ketika ini terjadi

Tapi langit sudah sangat gelap, dan tidak ada air menetes dari langit

Kediaman membuat sunyi makin menjadi dintara kami

Tiada kata, tiada suara…

Lalu siapa yang bisa menjelaskannya?

Tiada satupun dari kami bicara

Ego menjadi penghalang untuk berbicara,

Lalu kami tetap diam disana

Tiada kata, tiada suara…

Dibawah langit gulita sampai pukul 5
(continue reading…)


Bisnis salah urus bernama “Sepakbola”

Sumber gambar: www.bolaindo.com

Hiruk pikuk sepakbola di Indonesia sudah mulai memasuki babak tenang beberapa waktu belakangan ini, penyatuan liga juga sudah mulai menemui jalan titik terang. Prestasi juga walau masih di level senior akhirnya telur selama 22 tahun itu pecah juga. Ya, paling tidak ada sesuatu yang cukup menjanjikan untuk bisa melihat Garuda terbang tinggi dan Merah Putih berkibar di level Asia atau bahkan Dunia.

Para pengambil kebijakan sepakbola di Negri ini juga tidak diam saja menanggapi prestasi Anak-anak muda ini. Salah satu hal yang terlihat adalah dengan memindahkan laga Kualifikasi AFC U19 dari Sidoarjo ke Jakarta. Ya, sudah jelas maksudnya dalah supaya untuk bisa mendapatkan pemasukan lebih dari penjulan tiket. Selain daya tampung Stadion Utama Gelora Bung Karno yang jauh lebih besar dari pada Gelora Delta Sidoarjo, standar harga tiket di Jakarta juga jauh lebih mahal karena standar tiket termurah di SUGBK adalah Rp. 50.000,- sedangkan di Sidoarjo berkisar Rp 25.000. Dua kali lipat kapasitas dan dua kali lipat harga tiket, bisa dibayangkan apa yang ada di benak para pemangku kebijakan sepakbola kita kan?

Namun nampaknya maksud besar para pemangku kebijakan itu belum dapat terlaksana dari dua laga yang sudah dijalankan Garuda Muda karena di pertandingan pertama melawan Laos SUGBK nampak sepi, stadion berkapasitas sampai 80.000 itu nampak lengang karena hanya diisi oleh 11.000 penonton. Pada laga kedua pun tidak begitu jauh berbeda, laga melawan Filipina semalam hanya ditonton oleh sekitar 30.000 penonton. Padahal panitia dikabarkan mencetak tiket sampai lebih dari 60.000 lembar. Ya, maaf pak kali ini anda belum beruntung kali… Tapi masih ada laga melawan Korea di akhir pekan ini dan menurut saya laga kali ini pasti SUGBK akan penuh sesak, “semoga”.
(continue reading…)


Sedikit usul untuk pak “Birokrasi”

 

Sumber Gambar : www.infobdg.com

Berhubung saya bingung mau nulis soal apa, soal birokrasi di Negri kita boleh ya.. Kenapa birokrasi karena saya baru saja mengalaminya.. Ok kita mulai saja.

Jika dikategorikan pada jenis layanannya di negri ini punya dua macam jalur layanan birokrasi yg sudah umum. Pertama adalah jalur “lurus” yang sebenarnya berkelok, dan kedua adalah jalur “tol” alias tanpa hambatan. Kedua jalur ini bisa kita pakai untuk mengurus apa saja yang berhubungan dengan pemerintahan. Proses dan hasil dari dua jalur ini pun sama, contoh jika kita mengurus KTP maka syaratnya sama, dan hasilnya juga sama KTP. Akan tetapi ada perbedaan pada akselerasi proses pembutannya pada kedua jalur tersebut. Jika kita memakai jalur “tol” tanpa hambatan, akselerasi proses kita bisa luar biasa dan semua proses td bisa selsai dalam hitungan menit namun jika kita memakai jalur “lurus” tapi berkelok bisa sampai hitungan hari…

Tapi jika melalui jalan “tol” tentu kita harus mengeluarkan biaya ektra, alias lebih mahal dari tarif yang seharusnya. Besar kecilnya selisih ini bergantung pada teknik negosiasi dan hubungan kekeluargaan kita dengan pihak pemerintahan. Hal ini sudah jadi rahasia umum di negri kita ini, walau ada beberapa pelayanan publik yang tidak seperti ini namun saya yakin sebagian besar pelayanan publik di pemerintahan di negri ini seperti ini.

Terus sekarang kita bisa apa? Nah saya punya pemikiran sedikit soal hal ini.  (continue reading…)


Wajah yang bercerita (part1)

Setelah memijakkan kaki di kota kota yang berbeda selama 4 hari terakhir akhirnya saya kembali lagi ke kotak kecil 3×3 meter di “desa” industri yang panas ini. Ya, hanya 4 hari memang tapi rasanya ini cukup memberikan sedikit kesegaran di otak saya dan seperti kebanyakan buku yang saya baca bahwa dalam setiap perjalanan hal yang menarik adalah “menemukan” kali ini saya akan bercerita tentang apa yang saya temukan selama empat hari bepergian dengan modal sedikit rupiah dan banyak kenekatan :p

Apa yang saya temukan kali ini?
“Wajah” ya kali ini saya akan menceritakan tentang temuan saya yang satu ini. Wajah-wajah yang saya temukan selama perjalanan yang masing-masing memiliki cerita dibaliknya (Tentunya cerita versi saya, karena tidak semua pemilik wajah itu sempat saya tanya :p)

Lelah– Wajah pertama ini saya temui ketika menumpang travel dari Karawang ke bandung, wajah ini mewakili tubuh gempal si pemilik nama Subagio. Dari sedikit cerita yang saya dapat ini adalah rutinitas hariannya selama 5 tahun terakhir, duduk dibelakang kemudi izuzu elf melintasi Tol purbalenyi dan padalarang sampai dia hafal betul setiap lekuk dari jalanan ini. Wajah ini memang luar biasa, saya tahu betul bagaimana lelah yang diceritakan tapi senyum masih nampak walaupun samar-samar. Mungkin ini yang dinamakan menikmati hidup, dan seberapa bosanpun dengan apa yang biasa kita lalui tetap saja jalanan itu harus dilewati karena jika tidak saya dan rombongan lain di mobil ini tidak akan sampai di bandung.

Waw, sudah siang rupanya. OK saya bersiap dulu, wajah berikutnya akan saya ceritakan nanti malam.


Tersesat

Dalam hening aku berdiri tepat ditengah kota ini
Disaat semua kehidupan berjalan dengan cepat aku masih diam berdiri

Air mata hampir jatuh setelah satu jam kelopak mataku menahan
Aku tetap diam, menyaksikan kehidupan yang terus berjalan

Hari ini sekali lagi aku merasakan apa yang disebut kebimbangan
Harus kemana aku mengambil jalan, Aku terhenti tepat dipersimpangan

Terdiam dalam keramaian, aku terus mencoba mencari ketenangan
Tanpa aku sadari semua berjalan dan aku tetap diam

Dalam keraguan aku mencoba menentukan, kemana kaki ini akan kulangkahkan
Dan aku tersadar aku tersesat saat ini, aku tersesat di kota ini

Logika dan hati terus beradu, kakiku bergetar, mataku nanar dan akhirnya
Langkahku tetap tertahan…

Tuhan tunjukan aku jalan, ijinkan aku serahkan mimpiku pada takdir-Mu
Tuhan aku lelah sendirian, rengkuh aku Tuhan temui aku dalam sujudku.


“Seni” berorganisasi

Hari ini ditengah kesibukan aktivitas pabrik yang semakin ruwet karena kedatangan bos besar yang mendadak untuk mengobrak-abrik isi pabrik, saya mendapatkan kesegaran yang lebih dari sekedar aktivitas yang biasa lakukan. Ya, saya menemukan kembali seni dalam menjalani pekerjaan ini. Sesuatu yang sebelumnya saya pikir tidak akan saya dapatkan disini tapi justru saya mendapatkan lebih hari ini yaitu seni berorganisasi.

Seni berorganisasi, sesuatu yang dulu saya dalami ketika semasa kuliah dan saya sangat menikmatinya ternyata itu ada disini dan dekat dengan apa yang aku kerjakan selama ini. Entah mengapa saya baru menyadari ini hari tapi rasanya ini akan terlihat lebih menarik kedepannya.

Dulu saya belajar bagaimana mengelola organisasi dan ketika bekerja saya diberikan tanggung jawab mengelola proses. Awalnya saya pikir itu berbeda dan saya menjalaninya dengan cara berbeda pula tapi ternyata saya salah. Dari komponen proses yang saya kelola ternyata sangat erat dengan faktor manusia, itu artinya mengelola proses itu sama dengan mengelola manusianya juga. Sesuatu yang dulu saya pelajari dengan sangat giat sampai harus meninggalkan jam kuliah itu ternyata ada disini dan saya baru menemukanya setelah lebih dari satu tahun.

Dan hari ini saya sangat bersyukur pernah belajar banyak tentang ini dari dan di KMF FMIPA-UGM.


Belenggu

Ketika tersedar dalam sisa lamunan dan benaman impian aku sedikit tersadar tentang jalan yang sedang aku lalui saat ini. Banyak yang aku dapatkan tapi bukan kebahagiaan, banyak yang terima tapi bukan ketenangan. Lalu apa yang sebenarnya terjadi saat ini.

Setiap hari kutelusuri jejak terbitnya mentari dijalanan pinggir kali malang dengan motor tua yang menemaniku sejak SMA. Tidak ada keluhan tidak ada rasa bosan tapi tanpa ketenangan dan kebahagiaan sepanjang jalan aku lewati dengan membuang 45 menit waktuku untuk diam diatas motorku menyaksikan hal yang sama, sungai yang sama, jalan yang sama dan teman perjalanan yang tak jarang sama.

Dan setalah dejavu selama 45 menit yang terus aku alami sepanjang hari tak ada hal baru yang aku temui, hanya rutinitas yang berlalu dengan mesin yang sama dengan posisi yang sama dan dengan maslah yang sama. Semua berulang seperti putaran jarum jam. Terlihat bergerak namun pada akhirnya akan melewati angka yang sama pula sesuai dengan siklus jalurnya.

Kadang ini menyakitkan ketika aku sebagian jiwaku ingin berlari mengikuti keinginan tubuhku yang selalu ingin bertemu dengan hal baru. Ini seperti membelenggu jiwaku, membuatku terdiam walau terlihat bergerak. Ini seperti membuatku terpenjara pada rutinitas yang tak berujung waktu, Sampai waktu yang tidak pernah aku tahu.


Copyright © 1996-2010 Tentang Kita dan Sekitarnya. All rights reserved.
iDream theme by Templates Next | Powered by WordPress