Pagi ini aku terbangun menggenggam pertanyaan pertanyaan yang sampai larut tadi tak kutemukan jawabanya..

Kabut tipis yang tiba-tiba saja menyelimuti kota ini semakin menenggelamkan apa yang ku cari. Jauh kedalam dinginya pagi dan keheningan langit aku berdiam memandangi sisa kekuatan malam dalam bentuk butiran air yang ketakutan diujung dedaunan karena pagi yang akan mengantarnya pergi menguap dan menjalani siklus abadi yang tak akan pernah dia tahu kapan berhenti.
Seperti itukah mimpi?
Mendadak menjuat diujung otakku tentang apa yang sedang kucari, Muncul sebagai kekuatan besar dalam suatu saat lalu kemudian lenyap oleh keadaan dan muncul lagi suatu saat lalu kembali hilang karena keadaan? seperti siklus yang terus berputar bergantung pada hal yang sebenarnya sama dan waktu yang mungkin juga sama namun tak pernah kita sadari sepenuhnya.

Semuanya kemudian lenyap disulap kesibukan hari. Sampai akhirnya kutemukan lagi hal yang sama, kutemukan lagi butiran air yang sama namun kali ini bukan sebagai bukti kekuatan malam, karena malam baru akan datang 3 jam lagi dari sekarang. Semakin dalam kupandangi dan tak kutemukan perbedaan dari butiran yang kutemukan tadi pagi diujung dedaunan selain tempat munculnya yang kini berada dibalik kaca bermotif belimbing yang terlihat berwarna coklat karena teh yang ada didalamnya. Tetesan itu muncul tiba-tiba persis seperti embun yang terjaga dipenghujung malam dan kemudian lenyap ditengah pagi, oleh udara hangat yang akan mengembalikannya pada siklus kehidupannya.

Datang tiba-tiba begitu saja menunjukkan kekuatan kehidupan lalu kemudian hilang begitu saja oleh keadaan? seperti itukah mimpi? tapi bukankah keadaan ini seharusnya bisa jaga agar tidak menghancurkan mimpi-mimpi, seperti udara yang bisa kita jaga untuk mempertahankan embun tetap menunjukkan kekuatannya?
Tapi bagaimana caranya?