Hari ini aku diajarkan tentang kejujuran dari anak kecil berusia 8 tahun yang masih terikat hubungan darah denganku sebagai sepupu. Cerita berawal ketika aku menjemput keponakanku pulang sekolah siang tadi sebagai siswa kelas 3 SD pulang jam 11.30 tentu sudah sangat melelahkan dan menghabiskan semua uang sakunya, tapi senyum dan tawanya masih mengmbang sempurna ketika melihatku menjemputnya didepan pintu gerbang sekolah.

Dengan semangat 45 dia berlari kerahku, dan memberikan tas yang digendongnya, namun sebelum dia naik ketas motorku pandangannya teralihkan ke penjual tempura yang mangkal didepan SD. Karena kedekatanku dengannya ia pun berani minta padaku untuk dibelikan jajan itu.
“Mas, beli tempura!”  Begitu pintanya.
Mendengar pintanya aku bergegas mengambil dompet disaku celanaku. terlihat oleh mataku hanya ada dua lembar uang pecahan sepuluh ribu dan satu lembar lagi pecahan lebih besar (tak perlu aku sebutkan, dikira sombong nanti). hehehe
Dengan mengira-ira harga jajan itu aku mengambil uang pecahan sepuluh ribu
lalu aku berikan padanya. Tanpa melihat uang yang aku berikan dia langsung berlari kerah penjual itu, namun belum sampai dia ditempat penjual itu dia kembali berlari kerahku lalu berkata:
“Mas, duite kok sepulu ewu?”
(“Mas, uangnya kok sepuluh ribu?”)
Aku sempat bengong melihatnya karena aku kira uangnya kurang, buset emang berapa harga tempura itu..
Tapi sebelum penasaranku berlanjut dia kembali berbicara setelah nafasnya agak teratur efek dari lari-larinya tadi
“Mas, tempurane ki regane lima ratus nek adek tumbas dua dadine sewu” (“Mas, tempuranya itu harganya lima ratus, kalo adek beli dua jadinya seribu”)
Saya kembali terdiam dan menjawab pernyataanya tadi
“Ya, kan mengko jujul dek?”
(“Ya, kan nanti dapat kembalian dek?”)
Belum selesai saya bicara dia sudah kembali menyela:
“Mas, nek sepuluh ewu mengko jujule okeh sangang ewu, mengko ndak ilang jujule”
(“Mas, kalo sepuluh ribu nanti kembaliannya banyak sembilan ribu, nanti ndak hilang kembaliannya”)
Saya tersenyum melihat keluguannya bagaimana tidak jarak penjual tempura dan tempatku parkir motor hanya sekitar 10 meter, kalo pun uang kembaliannya jatuh dan hilang pasti bisa dicari dan ditemukan.
Saya jadi berfikir kenapa orang ramai-ramai memamerkan sikap dewasanya saat kampanye atau hal serupa ntuk mengambil simpatik orang lain. Padahal justru anak kecillah yang dengan keluguan justru bisa menjaga kejujuran saat bersikap serta menjaganya dengan baik agar tidak terjadi kesalahan atas dirinya.
Dan bukankah semakin dewasa kejujuran kita cenderung tergadai dengan kepentingan kita?
Akhirnya Aku merogoh-rogoh saku celana dan kudapati uang pecahan dua ribu rupiah, dia pun sempat menolaknya sebelum aku bilang.
“Dek, ini tumbase adek dua mas dua jadi pas dua ribu kan?”
Mendengar jawabku dia langsung kembali berlari kearah penjual tempura itu dengan senyum yang begitu merekah tanda bahagia.
Dari cerita singkat ini semoga bisa membuka pikiran kita akan kejujuran yang patut kita contoh dari anak-anak disekitar kita.