Sore itu aku masih larut dalam pekerjaan yang terpaksa aku bawa pulang sebagai PR liburan didepan laptop mini lamaku. Suasana teras sederhana sore itu mendadak mengembalikan ku pada masa SMA ku ketika datang ibuku dengan secangkir teh persis seperti 8 tahun lalu…

Tidak ada satu pun sel perasa dilidahku yang tidak setuju bahwa teh ibuku adalah teh terbaik yang pernah ada didunia, paduan tiada tanding antara teh,gula dan panasnya air sangat selalu menjadi juara di tangga rasa di otakku…

Sekejap kupalingkan pikiran dari laptop dan pekerjaan dan beralih pada ibuku yang tepat berada dihadapanku sekarang. Banyak cerita yang mengalir begitu saja dari kedua mulut kami, kami bercerita banyak hal seperti seorang teman lama yang baru bertemu setelah sekian lama terpisah. Dan itulah ibuku bukan cuma seorang ibu luar biasa tapi juga teman nomer satu di dunia.

Dan teman nomer satu di dunia itupun akhirnya bercerita tentang apa yang sedang mengganggu pikirannya saat itu, Aku terdiam mematung seketika saat kulihat air mata mulai mengalir dari sudut matanya mengiringi ceritanya.

“Ternyata ibu sudah benar-benar tua sekarang. Jagoan-jagoan kecil ibu sudah tidak ada, sekarang kalian bertiga sudah besar semua. Adikmu sebentar lagi akan meninggalkan rumah juga mengejar cita-citanya. Waktu ini pasti akan datang dan sebenarnya sudah dari dulu aku persiapkan, waktu dimana harus mengantar kalian keluar dari pintu rumah dan tidak pernah bisa dipastikan kapan akan kembali masuk rumah, demi hidup kalian nanti.

Ibu diberikan tiga jagoan serba bisa dari Tuhan, tapi tidak diberikan satu pun putri yang bisa ibu ajak masak bersama di dapur tidak pula diberikan seseorang yang bisa ibu ajari merias wajah dan menata rambutnya. Ibu tidak pernah menyesali hal itu, karena ibu bahagia punya kalian bertiga yang selalu bisa membuat ibu dan ayahmu bangga dan bisa mengagetkan kami dengan hal-hal yang tidak biasa.

Ibu hanya takut kalian suatau saat nanti benar-benar lupa. Lupa bagaimana caranya kembali melewati pintu ini, atau bahkan kalian lupa bagaimana cara menemukan pintu ini.Karena sebentar lagi ibu harus berbagi posisi wanita dihati kalian dengan wanita pilihan kalian, dan mungkin bahkan bisa saja posisi ibu digantikan.”

Aku terdiam lama sampai semua cerita itu selesai ibu lafalkan, dan kemudian kedua tanggannya merengkuhku sambil berbisah “Jangan Pernah Lupa Pintu Ini Nak, ibu sangat takut kalo itu terjadi”
Dengan mulut yang masih kaku kupaksakan membalas ungkapan itu dengan satu kata saja “Pasti”.

Sore itu berakhir dengan tangis diantara kami berdua.

Aku tidak pernah mengira bahwa ibuku punya ketakutan yang seperti itu, dan betapa merasa bersalahnya aku selama ini karena list dial-up HP ku justru sudah menenggelamkan nama “Bunda” dengan nama wanita lain. Betapa merasa tidak berdayanya aku ketika menyadari bahwa aku sudah hampir menggeser posisinya di hatiku.

Maafkan aku ibu, aku tak akan biarkan ketakutanmu terjadi padamu.