Sudah cukup lama tidak menengok halaman ini akhirnya karena satu notifikasi jadi dibuka kembali, saya hampir lupa sebelumnya pernah punya laman ini. Maklum lagi sok sibuk dengan kegalaun hati,. haha.. *galau kok terus.

Karena sudah ngebuka laman ini jadi saya pengen iseng-iseng mengungkapkan salah satu kegalau saya ini, hehe

Berhubung media sudah cukup redup tapi saya masih galau, saya akan menuliskan sedikit kegaluan saya soal pilpres 2014 🙂

Pilpres kali ini adalah pilpres kedua saya setelah yang pertama kali saya berikan hak pilih oleh negara 5 Tahun lalu pada tahun 2009, dan pilihan saya pada pilpres pertama saya itu menang jadi presiden dan akan segera lengser bulan Oktober depan. Dulu awalnya saya senang sekali ketika pilihan saya menang, sudah berasa kayak nonton AS Roma juara pada 2001 silam. Tapi pada akhirnya saya mencaci maki sendiri pilihan saya yang memang itu beberapa tahun kemudian karena beberapa kebijakannya. Yah namanya juga rakyat cuma bisa protes-protes aja kan. haha

Dan pada edisi kali ini pilihan saya hampir menang juga, walau sekarang masih menjalani gugatan oleh lawan di sidang MK, tapi tenang saya galau bukan soal gugatan itu kok. Saya pikir semua proses pilpres yang harusnya saya jalani yaitu menentukan dan memilih yang terbaik dari pilihan yang ada sudah saya jalankan. Sekarang tinggal tunggu saja keputusan para pemilik kuasa akan negri ini :) 

Yang menjadi kegalauan saya pada pilpres kali ini adalah soal digunakannya media sosial sebagai wadah kampanye yang menurut saya tidak digunakan sebagaimana mestinya alias tidak bertanggung jawab. Bebebrapa waktu lalu bahwak mungkin saat ini masih ada beberapa kita, (eh kita! saya aja mungkin ya..) merasa jengkel oleh olah para tim sukses pilpres. (Saya menyebut para artinya kedua belah pihak ya!)

Menurut saya sah-sah saja media sosial dijadikan sebagai alat kampanye, tapi harus dengan etika alias tidak digunakan seenaknya sehingga kita jadi merasa malas sejnenak dengan media sosial. Menurut saya media sosial itu jika mau digunakan sebagai media kampanye gunakanlah seperti halnya ketika baligho dan sejenisnya. Artinya sah-sah saja digunakan untuk kampanye atau iklan produk apapun tapi tolong jangan dipasang ditengah jalan sehingga menggangu pengendara dan pengguna jalan. Simple aja kan gunakan dengan semestinya untuk iklan bukan untuk menjelek-jelekan dan sebagaimnya.

Tapi sudahnya, saya sediri sudah cukup pusing memikirkan hidup, jadi melihat semua tingkah para tises ini kadang walau kesel sekali cuma dibuat senyum-seyum pahit aja. Ya mau bagimana lagi sebagai contoh saya punya temen yang kebetulan adalah salah satu kader partai dan pastinya dia jadi salah satu timses kan! Setiap kali ketemu dia yang diomongin selalu capres mulu sampai panas kuping saya dengarnya, dan yang lebih pahit lagi setiap dibilangin selalu saja malah bikin jengkel. Akhirnya yasudahlah saya tungu aja nanti kalo calon yang dia agung-agungkan itu menang! Apakah benar dia akan dapat bagian?

Yang jelas buat saya pilpres 2014 ini tidak sedamai yang dibicarakan di TV-TV milik pembesar negri ini. Bagi saya pemilu kali ini seperti ricuh dalam karung. Oposih…

Sudahlah wes ayo kerjo lagi cukup sekian acara resik-resik laman. Sesok nek selo bahas galau-galau seng liyo.. 🙂