Sumber gambar: www.pd4pic.com

Setelah seperempat abad lebih menjalani hidup dan merajut mimpi akhirnya saya kesampaian juga untuk bisa ikut berlayar dan mnejadi bagian dari awak sebuah “kapal besar” di negeri ini. Awal saya dinyatakan bisa menjadi bagian dari “kapal” ini amat sangat excited. Bagaimana tidak karena ini merupakan salah satu mimpi saya dan saya harus mengorbankan waktu, usia dan tentunya cinta demi bisa kembali mendapatkan selembar ijazah. Salah satu syarat wajib yang bisa mengantar saya ke pintu dermaga di mana “kapal” ini akan berlabuh.

Semua berjalan dengan sempurna dari proses menuju dermaga, berproses sebulan di dermaga untuk mengetahui tentang kapal ini lebih dekat. Sampai akhirnya sekarang diberikan ijin untuk ikut berlayar walau masih sebagai ABK anak bawang yang kerjaannya “cuci piring” dan “bersihin kabin”.

Saat ini saya sudah berlayar bersama “kaoal besar” berada di dalamnya walau tak semua isi bisa saya sentuh dan saya gunakan. Saya cukup senang karean bisa melakukan observasi teantang semua yang ada di sini. Melihat bagaimana besarnya “kapal” ini dari dalam. Menyaksikan semua proses yang ada di dalamnya, dan yang terpenting ikut serta di dalamnya saat kapal ini akan melewati gerbang check point akhir periode tahunan berlayar.

Namun yang lebih terasa adalah bagaimana saya bisa melihat seperti apa “kapal besar” ini sesungguhnya. Melihat jauh ke dalam sampai kepada bagaimaan para ABK-nya bekerja. Dan mengetahui bagaimana “kapal besar” ini ternyata bocor dimana-mana. Sesuatu yang wajar sebenernya, dan memang ini selalu terjadi setiap kapal-kapal besar yang mulai fokus bagaimana bisa berlayar jauh. Fokus pada apa yang ada dilautan dan tidak memperhatikan bocoran-bocoran kecil yang ada di kapal.

Yang kemudian menjadi sulit bagi ABK baru seperti saya adalah bagaimana membuat kebocoran kecil ini terlihat kemudian bisa terselesaikan. Akan tetapi fokus Kapten kapal yang sedang ingin melaju kencang tentu akan menimbulkan resiko jika saya memaksakan ingin mengangkat kebocoran ini sebagai sebuah isu. Pertama adalah bisa jadi ini akan dianggap lalu, dan apabila aku pakasakan tentu kami tidak akan terlihat menjadi bagian bagaimana kapal ini mampu berlayar jauh ke depan. Ya saat ini saya memilih untuk melihat lebih dahulu bagaimana semua ini berjalan dan berharap ada suatu keajaiban. Semoaga saja segera diberikan kuasa untuk menyentuh apa yang ada di dalamnya. Karena saya percaya bahwa lobang-lobang ini harus ditambal agar “kapal besar” ini terus gagah berlayar mengarungi samudra sampai suatu saat nanti saya berkesempatan menjadi Nahkoda-nya.