Sekitar dua setengah tahun yang lalu aku memulai menapak langkah di industri yang aku jalani saat ini. Industri Teekomunikasi, sesuatu yang bahkan tak terbayang atau tak pernah terucap saat ditanya apa cita-citaku waktu kecil dulu. Ya kini aku ada di industri ini dan masih terus belajar untuk mengerti hal-hal yang sejujurnya tak pernah aku pelajari baik di bangku sekolah maupun kuliah. Dua setengah tahun berlalu dan baru sebagian kecil saja yang aku mengeti, ya baru dimengeri belum dipahami. Semoga lain kali aku bisa berbagi cerita tentang sesikit yang aku mengerti itu di blog ini karena kali ini aku akan bercerita tentang bagaimana aku bisa sampai di sini.

Jika diruntut kebelakang langkah ini bermula dari “kebingungan dan ketidaksengajaan”. Sekitar enam tahun lalu aku mengambil keputusan yang sangat emosional dengan resign dari perusahaan manufacture yang sebenarnya cukup bonafit. Keputusan yang didominasi oleh ego masa muda yang sok tau dan tidak memperhatikan resiko ini kini menjadi pelajaran berharga dalam hidup. Setelah resign dan memutuskan kembali ke Jogja aku memulai petuangan “kebingungan” dan tidak tau harus berbuat apa dan bagaimana. Kebingungan itu akhirnya membawaku pada formulir pendaftaran S2 di Gadjah Mada. Ini juga keutusan emosional, namun pada akhirnya aku syukuri keberanianku saat itu.

Berbekal sisa tabungan dan “nekat” saya akhirnya menjadi mahasiswa master di FE UGM. Merasa “gagal” memilih jurusan kuliah waktu S1 saya benar2 berusaha riset memilih jurusan terbaik yang sesuai dengan planku saat itu. Plan yang sebenarnya juga masih samar-samar. Setalah semua proses itu akhirnya aku matap mengambil konsentrasi arus lemah atau elektronika dengan bidang instrumentasi. Aku memilih ini dengan berbekal sedikit ilmu dari matakuliah dasar yang pelajari di S1 Fisika, temen-temen sekontrakan yang isisnya suhu instrumentasi semua serta harapan besar bisa masuk ke dunia impian waktu S1 yang sulit aku tembus yaitu Industri O&G.

Awal semester kedua aku memutuskan pindah bidang dari Instrumentasi ke Telekomunikasi. Sebuah keputusan kejutan yang “tidak sengaja” yang aku ambil karena terpaksa. Berita terkait Industri O&G yang tiba2 melemah dan banyak kompeni yang gulung tikar. Hal ini membuat aku berfikir bahwa akan sia-sia kalau di teruskan “belajar” ilmu ini. Dan akhirnya aku mengenal dunia Telekomunikasi di semester ke-2 studiku di S2 TE. Pemilihan Telekomunikasi saat itu hanya berbekal ajakan dari teman dan cerita-cerita dia yang katanya di bidang ini gampang lulusnya. Sungguh satu hal yang sebenarnya sangat tidak masuk akal dan bertentangan dengan niatan dan tekat waktu awal kuliah. Tiga semester berlalu dan benar saja semua berhasil aku lalui dengan cepat walau tanpa bekal apa-apa sebelumnya. Satu-satunya bekal yang aku punya adalah aku pernah mengambil mata kuliah gelombang pada waktu S1 sulu. Walau waktu kuliah juga bolos-nya lebih sering dibanding masuknya namun ternyata modal sedikit itu sangat membantu dalam menyelesaikan studiku.

Pernakalan yang hanya 1,5 tahun itu akhirnya membawaku masuk ke industri ini. Industri yang ternyata lebih besar dan tak pernah terbayang olehku sebelumnya. Industri yang ternyata bukan hanya sekedar sinyal radio dari BTS ke HP atau kabel optik/tembaga yang masuk ke rumah-rumah. Industri dengan nilai investasi yang mencapai puluhan Triliyun rupiah tiap tahunnya. Industri yang aku masuki dengan “kebingungan dan ketidaksengajaan”. Industri yang kini mulai aku nikmati setiap liku teknis dan politisnya.