Hari aku kembali merasa beruntung karena diberikan lagi sebuah pelajaran kehidupan dari keadaan. Bisa dibilang seminggu terakhir ini aku sangat menikmati hidup karena sedang ada bahasan RUPS di ladang penghuni aquarium mezanin jarang menampakkan dirinya alhasil aku bisa melihat matahari tenggelam di sepanjang jalanan pinggir kali malang yang biasanya aku lalui dalam keadaan gelap gulita.

Seperti biasa dengan kecepatan yang tak pernah jauh dari angka 40km/jam aku menaiki si biru dengan santai melewati rute wajib sepulang dari ladang, dan nangsang dulu diwarung makan sebelum masuk kandang. Sudang setahun lebih aku tinggal disini tapi dari sekian banyak tempat nyangsang sepulang kerja ada dua top chart yang selalu jadi pilihan warung padang dan warteg. šŸ™‚
Dan hari ini aku memilih pilihan yang kedua karena masih sore jadi aku pikir bakalan masih banyak pilihan menu disana. Sesampainya di warteg andalan, aku tadinya mau mesen menu andalan di warung ini yang juga biasanya aku makan disini “Ikan Patin” tapi apa mau dikata ternyata aku kalah duluan dengan pemburu patin warteg yang lain. Saat aku mengeluarkan kata keluhan dari mulutku dengan kata “Yah, habis ya, makan apa dong…” terdengar ada suara nyaut dari samping kananku “Disukuri nak, masih ada pilihan lain juga kan…”
Aku langsung terdiam beberapa detik dan menoleh kekanan, ternyata disana ada sosok laki-laki yang kutaksir berusia 50 tahunan melempar senyum ramah padaku. Tepat didepannya, diatas meja tersaji satu piring nasi yang sudah tinggal setengahnya dengan sayur jamur dan satu potong gorengan.
Dengan reflek aku membalas senyuman bapak itu dan berkata “Iya, pak…”
Akhirnya aku malah memtuskan memilih menu yang sama dengan sosok yang kemudia aku ketahui bernama pak Nadi itu “Sayur jamur dan tempe goreng”
Setelah memesan aku akhirnya memutuskan duduk disamping pemberi senyum, dan belum sempat aku menyapa untuk meminta ijin duduk disebelahnya ia sudah menyambutku “Mari nak silahkan duduk disini disamping bapak”
Seketika kami cair, sambil sama-sama fokus menghabiskan isi piring kami kami saling bercerita dan hal pertama yang kusadari adalah “Ternyata sayur jamur itu enak!”
Mungkin enaknya sayur jamur tadi sore juga karena kehadiran pak Nadi yang sesekali menceritakan tentang kesulitannya dalam obrolan kami.

Pak Nadi bercerita tentang bagaimana dia bisa sampai ke kota “aneh” ini, dan kenapa dia memilih sayur jamur. Baginya hidup tidak pernah memberikannya banyak pilihan dan bahkan cenderung memaksakan dia untuk memilih sesuatu. Termasuk tinggal disini dan sayur jamur menunya yang ternyata akhirnya kuketahui bahwa itu adalah menu wajibnya setiap hari. Menurut pak Nadi jamur sama sekali bukan makanan favoritnya, bahkan dia sangat tidak suka awalnya karena menurutnya masih banyak pilihan sayur kenapa harus jamur? Sampai pada akhirnya ketika awal dia merantau dan belum mendapat penghasilan dia dihadapkan pada pilihan yang lagi-lagi bukan pilihannya. Yah, dia harus makan sayur jamur! karena hanya itu yang mampu dia beli kala itu. Dan diapun harus memilih antara kelaparan atau memakan makanan yang sama sekali tidak dia diketahui apa yang terjadi setelah dia memkannya. Secara singkat pak Nadi bercerita bahwa dia seperti dihadapkan pada dua pilihan konyol “mati kelaparan atau mati karena keracunan” dan akhirnya dia memutus kan memilih yang kedua.

Sebuah pilihan yang sebenarnya tidak ingin dia pilih tapi pada akhirnya justru sekarang menjadi pilihan utamanya, barang kali karena dia sudah meyakini bahwa setelah makan sayur jamur dia tidak mati bahkan malah menikmati. Cerita yang mungkin sederhana tapi ini cukup buatku mendalami satu lagi pelajaran kehidupan yaitu tentang pilihan, bahwa seperti apapun itu dan sesulit apapun itu pilihan tetap harus diambil karena hidup memang selalu tidak bisa memilih apa yang kita inginkan, dan sesuatu itu tidak selamanya berbentuk pilihan. šŸ™‚