Ketika tersedar dalam sisa lamunan dan benaman impian aku sedikit tersadar tentang jalan yang sedang aku lalui saat ini. Banyak yang aku dapatkan tapi bukan kebahagiaan, banyak yang terima tapi bukan ketenangan. Lalu apa yang sebenarnya terjadi saat ini.

Setiap hari kutelusuri jejak terbitnya mentari dijalanan pinggir kali malang dengan motor tua yang menemaniku sejak SMA. Tidak ada keluhan tidak ada rasa bosan tapi tanpa ketenangan dan kebahagiaan sepanjang jalan aku lewati dengan membuang 45 menit waktuku untuk diam diatas motorku menyaksikan hal yang sama, sungai yang sama, jalan yang sama dan teman perjalanan yang tak jarang sama.

Dan setalah dejavu selama 45 menit yang terus aku alami sepanjang hari tak ada hal baru yang aku temui, hanya rutinitas yang berlalu dengan mesin yang sama dengan posisi yang sama dan dengan maslah yang sama. Semua berulang seperti putaran jarum jam. Terlihat bergerak namun pada akhirnya akan melewati angka yang sama pula sesuai dengan siklus jalurnya.

Kadang ini menyakitkan ketika aku sebagian jiwaku ingin berlari mengikuti keinginan tubuhku yang selalu ingin bertemu dengan hal baru. Ini seperti membelenggu jiwaku, membuatku terdiam walau terlihat bergerak. Ini seperti membuatku terpenjara pada rutinitas yang tak berujung waktu, Sampai waktu yang tidak pernah aku tahu.